Operasi Cambridge Analytica di Negara Berkembang

Cambridge Analytica | Help Net Security

Sumbubotol.com – Cambridge Analytica beberapa pekan belakangan mencuri perhatian publik internasional. Dikabarkan sebanyak 50 juta data personal pengguna Facebook bocor tanpa sepengetahuan korporasi milik Mark Zuckerberg.

Memang tidak hanya mereka, Strategic Communications Laboratories (SCL) sebenarnya turut menikmati akses ke jutaan data pengguna Facebook.

Cambridge Analytica menggondol data pengguna Facebook | CNET

Keduanya diduga kuat memperoleh data tersebut dari peneliti pihak ketiga bernama Aleksandr Kogan. Pria ini bekerja di Global Science Research dan membuat kuis tes kepribadian di Facebook sejak 2015.

Aplikasi buatannya yang bernama thisisyourdigitallife memang hanya diunduh 270 ribu pengguna Facebook. Akan tetapi, jangkauannya mampu mencapai 50 juta pengguna sebab aplikasi tersebut punya kemampuan untuk mengakses sejumlah data teman si pemakai.

Dari 50 juta data pengguna Facebook, sebagian di antaranya telah dianalisis untuk diperdagangkan demi kepentingan-kepentingan tertentu.

Muncul kabar, suksesnya Inggris keluar dari Uni Eropa juga tidak lepas dari gerak operasi yang digencarkan perusahaan firma analis data tersebut.

Kuat tuduhan Cambridge Analytica turut bekerja sama dengan Steve Bannon untuk kemenangan Donald Trump pada Pemilu Amerika Serikat (AS) 2016.

Pertanyaannya, memang bagaimana data yang telah terkumpul akan digunakan?

The Guardian merilis sebuah laporan, merujuk dari bocoran yang mereka dapatkan terkait bagaimana data pengguna Facebook dieksploitasi oleh tim kampanye Donald Trump.

Blue print dikantongi dari mantan pegawai Cambridge Analytica yang baru saja mengakhiri kontraknya. Sosok tersebut menegaskan tercatat dengan jelas bagaimana data para pengguna Facebook akan dieksplotasi.

Sejatinya, dokumen bocoran 27 halaman yang dibuat Cambridge Analytica adalah bahan yang akan dipresentasikan kepada para klien potensial.

Britanny Kaiser, mantan Direktur Pengembangan Bisnis Cambridge Analytica itu berkata, “Ini adalah kumpulan kampanye digital berbasis data yang digunakan Trump.”

Metode yang mereka pakai yakni, penelitian survei intensif, pemodelan data, hingga mengoptimalkan algoritma agar ribuan iklan yang mereka pasang menyasar beragam audien sesuai preferensi kepribadian masing-masing.

Praktik ini mereka terapkan dalam bulan-bulan menjelang Pemilu AS 2016. Bagian dalam dokumen yang dibocorkan berbunyi, setelah Trump dinyatakan terpilih, iklan kampanye yang disebar telah dilihat hingga miliaran kali oleh para calon pemilih.

Kesuksesan Trump sebagai Presiden ke-45 sangat mempesona. “Ada beragam permintaan untuk tahu bagaimana kami melakukannya. Semua orang ingin tahu, entah itu dari klien maupun calon klien potensial.”

Operasi Cambridge Analytica di negara berkembang

Kasus semacam ini memang agak terlihat futuristik bagi kita yang tinggal di negara berkembang.

Tidak hanya terindikasi terlibat dalam kampanye Pemilu AS 2016, TeleSUR memuat analisis Marion Deschamps yang mencoba memaparkan bagaimana Cambridge Analytica turut ‘bermain’ di negara-negara Amerika Latin yang mengadakan pemilu.

Brazil

Kepala Bagian Data, Alex Tayler, dan Direktur Pelaksana, Mark Turnbull, berkata kepada seorang wartawan Channel 4 yang tengah menyamar. Cambridge Analytica juga telah beroperasi di Meksiko dan sekarang tengah menargetkan Brazil di antara negara-negara lainnya.

“Jika kamu mengumpulkan data tentang orang-orang dan menganalisisnya, akan ada banyak informasi yang dapat digunakan untuk mengetahui cara menyegmentasi populasi, isu yang mereka pedulikan, hingga bermacam hal yang mereka sukai agar dapat melibatkan diri,” ungkap Tayler.

“Kami menggunakannya di Amerika dan juga menggunakannya di Afrika. Itulah yang kami lakukan sebagai perusahaan. Kami telah melakukannya di Meksiko, kami sudah tuntas di Malaysia, dan sekarang kami pindah ke Brazil, . . . Australia, Tiongkok.”

Terkait pernyataan ini, Jaksa Brazil tengah membuka sebuah penyelidikan apakah Cambridge Analytica bertindak secara ilegal di Brazil.

Dikabarkan mereka telah secara ilegal menggunakan data jutaan orang Brazil untuk membuat profil psikografis melalui kemitraan dengan kelompok konsultan A Ponte Estratégia Planejamento e Pesquisa LTDA yang berbasis di Sao Paulo.

Brasil merupakan pasar terbesar ketiga bagi Facebook. Perlu kamu tahu, mereka akan mengadakan Pemilu pada 7 Oktober 2018.

Meksiko dan Kolombia

Mari kita lanjut ke Meksiko dan Kolombia. CEO Cambridge Analytica, Alexander Nix pernah berkata, “Pig.gi sangat sukses di Meksiko dan Kolombia.” Pernyataan ini ia sampaikan tahun lalu saat aplikasi layanan telepon tersebut tercatat memiliki 200 ribu pengguna.

“Kami senang bermitra dengan aplikasi ini sehingga pengguna dapat menyampaikan pesan yang tepat kepada orang yang tepat pada waktu yang tepat.”

Ini berarti Cambridge Analytica juga mengakui telah beroperasi di Meksiko. Bloomberg Business memaparkan bahwa keduanya merancang sebuah layanan internet dan pulsa telepon gratis dengan syarat para pengguna harus menonton sejumlah iklan dan membaca cerita yang bersponsor.

Bahkan tahun lalu wakil presiden Cambridge Analytica sempat berkata kepada Bloomberg, kemitraan tersebut dirancang secara transparan untuk memengaruhi suara warga Meksiko yang lebih muda.

Tentu saja, Pemilu Meksiko akan berlangsung pada 1 Juli 2018.

BuzzFeed Meksiko turut melaporkan mulai tahun lalu ada sejumlah analis data yang dipekerjakan di 9 negara bagian Meksiko.

Dalam unggahan lowongan pekerjaan yang dibagikan di Linkedln berbunyi ‘otak di balik Pemilu Meksiko’.

Muncul sebuah kiriman ke halaman Facebook bernama Foreigners in Mexico City. Disebutkan menjelang pemilihan gubernur, para eksekutif Cambridge Analytica di Meksiko seperti Arielle Dale Karro turut dilaporkan melakukan kontak dengan beberapa anggota partai konservatis PAN (Partido Acción Nacional), termasuk senator Ernesto Cordero.

Mari kita bergeser ke halaman web mereka. Di sana turut tertera nama negara Kolombia sebagai satu tempat operasi.

Cambridge Analytica bahkan menyebut pernah menjadi konsultan Walikota Bogota, Enrique Peñalosa dari Green Party. Namun kantor walikota menolak adanya jalinan dengan perusahaan tersebut.

Tapi El Tiempo justru sukses menemukan hubungan Peñalosa dengan Farrow Colombia S. A. S. pada bulan Juli 2017.

Perusahaan ini punya kaitan dengan aplikasi Pig.gi. Di Kolombia tercatat ada 150 ribu pengguna yang rencananya pada 2018 diharapkan akan mencapai sekitar 800 ribu pengguna.

Bulan Maret kemarin, pemilihan anggota parlemen dimenangkan oleh partai-partai berhaluan center-right dan far-right.

Oh iya, 27 Mei nanti Kolombia akan melangsungkan pemilihan presiden baru.

Guyana, Peru, Argentina

Di halaman web Cambridge Analytica ada sebuah peta yang ditampilakan. Di sana terdapat tanda yang menampilkan bahwa mereka juga beroperasi di Guyana, Peru, dan Argentina.

Memang hanya sedikit informasi yang tersedia terkait sejauh mana operasi tersebut berjalan. Meski begitu, pihak berwenang di Argentina telah membuka penyelidikan atas kerja-kerja Cambridge Analytica di kampung halaman Leonel Messi.

Yang jadi masalah, mereka bukan sekedar mengumpulkan data lalu menganalisis. Channel 4 memaparkan partisipasi Cambridge Analytica dalam Pemilu Kenya 2013 dan 2017 yang bekerja sebagai mesin kampanye calon petahana Uhuru Kenyatta.

Tahukah kamu, mereka bahkan dikabarkan menyebarkan pesan-pesan provokatif dan berita palsu. Setiap detil kampanye dioperasikan oleh Cambridge Analytica.

Tidak hanya itu, disebut-sebut mantan agen MI6 dan perusahaan intelijen Israel turut menyediakan data bagi calon klien Cambridge Analytica dengan segudang laporan yang tentunya cukup penting.

Termasuk Indonesia?

Untuk saat ini memang belum ada informasi yang terang apakah Indonesia juga pernah atau akan jadi target operasi Cambridge Analytica.

Namun merujuk dari percakapan di atas, ada 2 negara, Malaysia dan Australia, pernah jadi ladang operasi mereka yang secara geografis berdekatan dengan Indonesia.

Kisahnya memang terdengar cukup fiksi atau memang kita saja yang terlambat untuk segera mengerti?(*)

Artikel ini sudah pernah tayang di Suluh Pergerakan dengan judul yang sama, Operasi Cambridge Analytica di Negara Berkembang

Comments

comments