Kehidupan Kedua Sang Pengoceh

Sumbubotol.com – Celotehan ini tidak mengulas novel Mario Vargas Llosa, berjudul El Hablador atau Sang Pengoceh dalam Bahasa Indonesia yang diterjemahkan oleh Ronny Agustinus; melainkan sekedar impresi personal saya setelah membacanya.

Secara struktur, novel yang memiliki 8 bab ini tekun dalam membangun plot cerita yang runut dari awal hingga berakhir. Karya yang diterbitrkan pada 1987 ini memakai sudut pandang campuran antara orang pertama sebagai narator dalam menuturkan kisah, bergantian dengan si tokoh yang jadi obyek cerita.

Dalam bab pertama, pembaca akan diajak narator menjelajahi kota Firenze, Italia, yang terkenal lewat sosok seperti Dante maupun karya-karya renaisans-nya.

Ketika secara tidak sengaja melihat sebuah galeri yang memamerkan foto orang-orang Machiguenga, masyarakat nomaden yang menempati belantara Amazon,  sang narator sontak teringat pada Sang Pengoceh sekaligus menandakan dibukanya tirai perjalanan kisah ini.

Sang Pengoceh, terbitan Penerbit OAK | Dok. Pribadi/Ahmad Rifai
Sang Pengoceh, terbitan Penerbit OAK | Dok. Pribadi/Ahmad Rifai

Sang Pengoceh adalah penutur cerita, mitos, gosip, serta informasi apa saja bagi orang-orang Machiguenga. Ia kerap berjalan sendiri di tengah hutan untuk mendatangi satu komune ke komune lainnya demi menunaikan takdir sebagai api penjaga kultur Machiguenga.

Namun yang dilihat dalam pameran foto di Firenze bukanlah Sang Pengoceh biasa. Sosok tersebut ajaibnya adalah teman sang narator yang punya ketertarikan tinggi, kalau tidak ingin menyebutnya mengantongi ikatan batin dengan roh hutan Amazon.

Sang narator yakin betul bahwa sudut gelap yang dilihatnya pada sisi muka sebelah kanan Sang Pengoceh tersebut adalah tompel besar yang khas dimiliki karibnya, Saúl Zuratas atau Mascarita yang artinya celoteh beo.

Lewat Mascarita, Mario Vargas Llosa berusaha menunjukkan bagaimana hancurnya kebudayaan Amazon dan ambang ajal hutan yang mengayomi banyak suku-suku pedalaman.

Ekspansi besar-besaran orang kulit putih yang ingin memerkosa alam membuat orang-orang Machiguenga harus terus berjalan ke dalam hutan jika tidak mau bersekongokol atau menjadi pesuruh atau budak untuk kepentingan eksploitasi yang keji tersebut.

“Bahwa budaya-budaya ini perlu dihormati,” ucap Mascarita. Satu-satunya cara untuk menghormati mereka adalah tidak datang mendekati mereka seperti yang dilakukan para etnolog atau para misionaris.

Budaya modern terlalu kuat, terlampau agresif, hingga mampu melahap apa pun yang disentuhnya. Para pemburu-pengumpul yang mediami hutan Amazon layak untuk dibiarkan hidup sendiri, tanpa harus mengamisilasikannya ke budaya yang mendaku paling agung.

Saat membaca novel ini, saya memvisualkan Mascarita dalam sosok El Búho, seorang produser musik elektronik bergenre jazirah hutan Amazon dibumbui tradisi Amerika Latin beserta sedikit aroma Hispanik.

Secara fisik keduanya hampir mirip. Sang narator menjelaskan bahwa Mascarita adalah Yahudi berkulit putih dengan rambut berwarna wortel. Ciri fisik ini hampir mirip dengan El Búho, Robin Perkins, yang berasal dari Inggris.

El Búho | Metal Magazine
El Búho | Metal Magazine

Tidak hanya berhenti di fisik, kesamaan berikutnya juga terletak dalam kehidupan mereka yang untuk kedua kalinya. Mascarita terlahir kembali sebagai Sang Pengoceh bagi orang-orang Machiguenga, sedangkan El Búho menemukan nyawa musiknya di tengah hutan-hutan, sungai, serta gunung-gunung Amerika Latin.

Ajaibnya lagi, keduanya juga punya hewan yang seakan ditakdirkan untuk menemani langkah mereka. El Búho dengan burung hantunya, Mascarita bersama burung beonya.

Sebagai pembaca Indonesia yang tidak terlalu pandai menggunakan bahasa lainnya, novel terjemahan Ronny Agustinus ini menambah asupan untuk melihat bagaimana dinamika dunia bekerja dan dampak buruknya bagi pihak-pihak lemah dan yang termarjinalkan.

Sang Pengoceh menambah wawasan saya dalam melihat bagaimana semestinya kita memperlakukan orang pedalaman atau suku-suku yang belum terpapar budaya negara-bangsa atau ekspansi modernitas.

Lewat novel ini, saya paham bahwa salah besar jika ingin menghormati mereka misalnya dengan memberikan bantuan dana desa yang mencapai Rp2,5 miliar demi membangun jalan, atau membagi-bagikan sertifikat tanah, atau mungkin mencekoki mereka dengan agama-agama modern.

Seperti yang dinyatakan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD) Pemkab Lebak, Rusito, terkait masyarakat adat Baduy yang menolak bantuan pemerintah untuk pembangunan infrastruktur guna menunjang pertumbuhan ekonomi daerah tersebut; “Penolakan itu, karena pembangunan dikhawatirkan merusak kelestarian adat.”

Ya. Kita harusnya tidak menyerang mereka secara bengis, memincingkan mata dengan tatapan hina, seakan manusia modern lebih superior. Seperti kata Mascarita, “Biarkan mereka dengan panah mereka, bulu mereka, cawat mereka.”

“Kalau kau hampiri dan amati mereka dengan hormat, dengan sedikit rasa senasib sepenanggungan, maka kau akan sadar bahwa tidak benar menyebut mereka barbar atau terbelakang. Budaya mereka mencukupi bagi lingkungan dan bagi kondisi di mana mereka hidup.”

“Apalagi, mereka punya pengetahuan yang mendalam dan tajam akan perkara-perkara yang sudah kita lupakan. . . . Manusia dan pepohonan, burung, sungai, bumi, langit.”  

Jika tertarik membaca dalam terjemahan Indonesia, mungkin kamu bisa mencarinya di toko-toko online. Sebab, penerbitnya OAK, telah gulung tikar sekitar tahun 2018; sebuah kabar menjengkelkan setiap mendengar penerbit dengan karya-karya menarik mengibarkan bendera putih.

Sepanjang perjalan dalam membaca Sang Pengoceh, saya ditemani remix-remix gubahan El Búho entah yang ada di Soundcloud atau di YouTube. (Asal tahu saja, El Búho seperti Machiguenga-nya Mascarita atau ibarat Amerika Latin-nya Robin Perkins bagi saya)      

Mendengar celotehan Mascarita tentang cerita orang-orang Machiguenga bersanding dengan praktik-praktik modernisasi yang bersiap melahapnya, sekaligus menjelajahi hutan lewat aransemen El Búho yang ajaib, merupakan sebuah hiburan yang cukup aduhai bagi working class seperti saya di hari libur.(*)

Comments

comments

One Comment

Comments are closed.