Empati Artifisial pada yang Imitasi

Do Androids Dream of Electric Sheep? | Dokumentasi Pribadi

Sumbubotol.com – Saya baru saja menyelesaikan karya Philip K. Dick berjudul Do Androids Dreams or Electric Sheep? dari Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) yang diterbitkan pada Maret 2019.

Novel ini pertama kali hadir pada 1968, di saat krisis nuklir antara blok Amerika Serikat dengan Uni Soviet, serta kecamuk Perang Vietnam.

Karya yang tebalnya 280 halaman ini berkisah tentang seorang pembunuh bayaran yang dipekerjakan oleh polisi San Fransisco untuk memensiunkan android ilegal yang kabur dari Mars.

Dalam menjalankan tugasnya, Rick Deckard dibekali alat tes empati Voigt-Kampff untuk memastikan apakah yang dia uji adalah manusia sungguhan atau justru imitasi.

Kisah ini berlatar belakang kehidupan di Bumi pasca Perang Dunia Pamungkas. Atmosfir telah tercemar radioaktif, debu sudah menutupi sebagian besar permukaan planet.

Kondisi ini membuat PBB mendorong dilakukannya migrasi ke luar Bumi demi menjaga kemurnian genetik umat manusia. Sebagai insentif, setiap orang ditemani dengan android gratis, wujud pelayan mekanik yang identik dengan majikannya.

Rosen Association adalah perusahaan yang memproduksi robot humanoid tersebut di Mars. Namun ada sejumlah android yang memberontak dan melarikan diri ke Bumi.

Di Bumi yang nyawanya sudah tak lagi genap, dapat memiliki hewan otentik merupakan penunjuk stratifikasi sosial yang baru setelah terjadinya gelombang kepunahan massal.

Sayangnya, tak semua orang bisa memiliki hewan. Harganya mahal. Sebagai gantinya, mereka hanya mampu membeli hewan imitasi yang wujudnya serealistis fauna sungguhan. Rick Deckard merupakan salah satu yang cuma mampu memiliki domba elektrik.

Serangkaian gambaran di atas selebihnya hanya sekadar hiasan. Yang saya tangkap dari novel ini, Dick berusaha mengajukan sebuah diskusi panjang mengenai yang asli dan imitasi; bagaimana yang asli justru berperilaku seperti yang palsu, sedangkan yang imitasi malah lebih terasa otentik.

Dikisahkan Rick mulai kehilangan orientasi setelah Phil Resch, seorang pembunuh bayaran lain yang ditemuinya, secara tergesa-gesa membunuh android tanpa terlebih dahulu melakukan prosedur tes empati.

Meski memang benar bahwa yang dibunuh adalah manusia artifisial, Rick sadar ia mulai merasa punya belas kasihan terhadap mereka yang palsu.

Dia juga mulai berpikir apa yang dilakukan Resch, yang juga selama ini ia lakukan, merupakan perbuatan yang lebih buruk daripada eksistensi makhluk yang dianggap imitasi itu.

Saya awalnya berprasangka bahwa novel ini akan berujung pada penerimaan Rick kepada yang imitasi, yang dianggap lebih rendah statusnya dari manusia yang disebut lebih orisinil.

Namun yang saya temui, Rick tampaknya tak terlalu mendengarkan pergulatan batinnya. Justru ia memutuskan tetap membunuh andorid yang tersisa, entah karena tuntutan ekonomi atau akibat tangannya sudah terlanjur berlumur.

Atau dugaan yang lain, memang karena itu yang diinginkan si penulis, Dick? “Entah seperti apa pergulatanmu, yang terpenting enyahkan saja mereka.” Andorid itu, yang imitasi, yang berwarna, yang non-pribumi, para imigran itu?

Di akhir cerita, Rick melakukan perenungan di pinggiran daerah gersang yang jauh dari kota. Perasaannya yang kalut -antara tengah meratapi apa yang telah diperbuat atau justru hanya sekedar efek biologis akibat keletihan akibat seharian penuh memburu andorid- berubah cerah seketika saat menemukan seekor katak gurun.

Ia lantas segera membawanya pulang. Akan tetapi, ironi segera muncul ke permukaan setelah diketahui bahwa ternyata itu hanyalah katak imitasi.

“Mungkin aku seharusnya tak memberitahumu, bahwa yang barusan itu katak robot,” ungkap istrinya, Iran. Jawab Rick, “Tidak. Aku bersyukur bahwa aku tahu. Lebih tepatnya, aku lebih suka kalau aku tahu.”

Do Androids Dream of Electric Sheep? juga diadaptasi ke dalam film berjudul Blade Runner

Comments

comments