Carola Rackete, Tak Gentar Torpedo ‘Pelabuhan Tertutup’ Salvini

Carola Rackete | Twitter/DrAlakbarov

“Kehidupan manusia lebih penting daripada permaian politik apa pun”
-Carola Rackete, kapten kapal Sea-Watch 3  

Perempuan itu berusia 31 tahun, seorang kapten kapal, dan dia baru saja mentorpedo hubungan Italia dengan anggota Uni Eropa. Demikian judul Fortune saat melukiskan Carola Rackete, sosok yang ramai diperbincangkan setelah ditahan otoritas Negeri Pizza karena nekat melabuhkan kapal penyelamat imigran tanpa izin di pelabuhan Pulau Lampedusa, pada akhir Juni 2019. 

Ia disebut menjadi simbol pembangkangan baru yang mendobrak ‘pelabuhan tertutup’ ala Salvini. Rackete dalam waktu bersamaan menjadi penjahat sekaligus pahlawan yang menentang inti dari kebijakan anti-imigrasi yang melarang kapal penyelamat imigran swasta berlabuh ke Italia.

***

Kisah ini bermula saat perahu karet sempit yang disesaki 53 imigran mengapung tanpa arah di Laut Mediterania. Pantai Libya, tempat perahu itu berlayar, berada 47 mil (75,63 km) ke selatan dan bagian terdekat Eropa berada di luar jangkauan, sekitar 140 mil (225,3 km) ke utara.

Posisi para imigran yang terombang-ambing antara hidup dan mati diketahui oleh sebuah pesawat Prancis sebelum pukul 10.00 waktu setempat pada 12 Juni 2019. Kru pesawat itu merupakan relawan yang telah menyisir Laut Mediterania untuk mencari orang-orang kesusahan dan kemudian memberi tahu tim penyelamat laut terdekat. Dan kebetulan yang diberi tahu saat itu adalah Sea-Watch 3.

Kapal Sea-Watch 3 bergegas meluncur ke lokasi dan menyelamatkan para imigran itu. Mereka sebenarnya bisa membawa pencari suaka ke penjaga pantai Libya. Akan tetapi, kapten Sea-Watch 3, Carola Rackete, tidak menganggap itu sebagai pilihan.

Roland Hughes dalam laporannya di BBC menulis Libya beberapa tahun terakhir terdegradasi menjadi negara tanpa hukum, semrawut yang diawasi milisi bersenjata, dan Sea-Watch bersumpah tidak akan pernah mengembalikan para imigran ke pantai itu.

“Dengan paksa membawa orang-orang yang diselamatkan kembali ke negara yang dilanda perang, membuat mereka dipenjara dan disiksa adalah kejahatan yang tidak akan pernah kita lakukan,” tulis organisasi non-pemerintah (NGO) asal Jerman itu.

Rackete menahkodai Sea-Watch 3 melaju ke pelabuhan terdekat, yakni di Pulau Lampedusa, Italia, yang masuk Provinsi Agrigento, Sisilia.

Namun Italia yang dituju Sea-Watch 3 bukanlah Italia pada pertengahan 2015 ketika krisis imigran Eropa mencapai puncaknya. Lebih dari satu juta imigran saat itu melarikan diri ke Eropa dan 154.000 jiwa tiba di Italia. 

Kini jumlah imigran yang mencapai pantai Italia telah berkurang secara drastis. Sejauh tahun ini baru ada 2.800 jiwa. Selain itu, Italia dipimpin koalisi populis sayap kanan yang mengantongi kemenangan, sebagian dengan program anti-imigran.

Pemerintah Italia berpandangan harusnya penjaga pantai Libya mengirim kembali para imigran dan dengan sumir menilai mereka bertindak layaknya layanan taksi yang memfasilitasi kerja-kerja penyelundupan manusia.

Banyak orang Italia nampaknya setuju dengan pandangan pemerintah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Pew Research Center pada bulan Maret 2019, 52 persen orang Italia berpikir imigran adalah beban bagi negara mereka dan jumlah orang Italia yang percaya para imigran membuat negara lebih kuat telah menurun secara signifikan dalam 4 tahun terakhir.

Direktur Pusat Penelitian dan Analisis Migrasi yang berpusat di London, Christian Dustmann mengatakan jumlah imigran yang mencapai Italia sekarang kecil. Tapi cara pemerintah Italia dengan gestur yang diperagakan Menteri Dalam Negeri Italia, Matteo Salvini, sangat berlebihan dalam persoalan imigran.

Kabinet Italia mengeluarkan dekrit darurat pada 11 Juni 2019, memutuskan bahwa setiap kapal yang berlayar ke perairan Italia tanpa izin akan menghadapi denda mulai 10.000 sampai 50.000 euro (Rp158,11 juta sampai Rp790,55 juta). 

Italia kemudian menutup pelabuhannya untuk kapal penyelamat imigran pada 14 Juni 2019. 

“Pihak berwenang Italia memberi tahu kami, di tengah malam, bahwa pemerintah telah memperkenalkan peraturan keamanan baru yang melarang kapal penyelamat NGO memasuki perairan wilayah Italia,” ungkap Rackete.  

Sea-Watch 3 menghabiskan 2 minggu di perairan internasional sebelum nekat berlabuh di Lampedusa karena kesehatan para imigran yang dalam bahaya.  

Jumlah imigran di kapal agak simpang siur karena sejumlah media menyebutkan angka yang berbeda. Media Jerman Süddeutsche Zeitung menyebut 10 imigran, termasuk anak-anak, perempuan hamil, dan yang sakit diizinkan untuk turun.

Sementara The Guardian menyebut Rackete menyelamatkan 42 imigran. Lalu BBC memaparkan ada 13 imigran diizinkan ke Italia karena alasan medis. 40 orang lainnya akan tetap di kapal bersama 22 anggota awak kapal. Sedangkan The New York Times menulis ada 40 imigran yang diselamatkan. 

Berkaca dari kesamaan 2 laporan terakhir, dapat diambil jalan tengah bahwa 13 imigran telah diizinkan masuk ke Italia karena alasan medis, sedangkan 40 sisanya masih berada di kapal Sea-Watch 3. 

Salvini menolak mengizinkan Rackete dkk berlabuh sampai sejumlah negara Eropa yang lain memberikan persetujuan untuk menerima para imigran.

Kemudian sejumlah negara seperti Finlandia, Prancis, Jerman, Luksemburg, dan Portugal datang menawarkan diri untuk menerima para imigran pada 28 Juni 2019. Salvini lalu mengatakan negara-negara itu harus memberikan ‘angka, jadwal, dan sarana’ sebelum dia mengizinkan para imigran keluar dari kapal.

Rackete Kecil Keliling Dunia, 5 Bahasa Dikuasai

Carola Rackete lahir di Kota Preetz, Jerman, dekat perbatasan Denmark, pada 8 Mei 1988. Dia dapat berbicara dalam 5 bahasa, Jerman, Inggris, Spanyol, Rusia dan Prancis.

Rackete bergabung dengan Sea-Watch pada 2016 karena menilai dirinya cukup beruntung memiliki lisensi laut dan tidak banyak orang yang mau melakukannya.

“Saya tidak punya rumah, tidak punya mobil, saya tidak peduli mencari uang secara teratur, dan saya tidak punya keluarga. Tidak ada yang menghalangi saya untuk membuat komitmen ini,” katanya kepada The Guardian

Pernyataan ini sekaligus menjadi belati yang pantas dihujamkan ke mulut para anti-imigran yang menuduh aksi penyelamatan para pencari suaka yang terombang-ambing di lautan sebagai mata rantai terakhir dari penyelundupan manusia. 

Rackete kecil dan orang tuanya tinggal 2 tahun di Kota Heikendorf, negara bagian Schleswig-Holstein. Kemudian dia melakukan perjalanan dunia bersama keluarga sebelum akhirnya menetap di Kota Hambühren, negara bagian Lower Saxony, sisi utara Jerman.   

Menurut media Jerman Kieler Nachrichten, Rackete lulus SMA pada 2007 di Hambühren, lalu belajar di Sekolah Maritim di Universitas Ilmu Pengetahuan Terapan Jade. Dia mendapatkan gelar sarjana dalam Ilmu Bahari dan Transportasi Laut pada 2011. 

Dia juga mengantongi gelar sarjana dalam Ilmu Nautika di universitas yang sama setelah memenuhi persyaratan ujian tertulis untuk lisensi kapten dari Badan Maritim dan Hidrografi Jerman, diperoleh berdasarkan pengelaman profesionalnya membawa kapal penumpang beserta muatannya dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain.  

Rackete menjadi petugas navigasi selama 2 tahun, Sejak Agustus 2011 hingga Oktober 2013, dalam ekspedisi ilmiah di Kutub Utara dan Antartika untuk Alfred Wegener Institute for Polar and Marine Research.

Ia sempat bekerja selama 8 bulan, Maret hingga Oktober 2014, sebagai relawan konservarsi di Cagar Alam Kronotsky di Semenanjung Kamchatka, bagian timur jauh Rusia.

Kemudian dia bekerja sebagai petugas keamanan hanya 4 bulan, sejak November 2014 sampai Februari 2015, untuk Silversea Cruises, jalur pelayaran ultra mewah yang kantor pusatnya berada di Monaco. 

Setelah itu dia bekerja sebagai petugas kedua di kapal milik Greenpeace pada Maret hingga September 2015 dan British Antartic Survey pada Januari 2016 sampai April 2017.

Rackete kemudian mendapatkan gelar master di bidang Manajemen Konservasi dari Universitas Edge Hill di Inggris, dengan masa studi dari 2015 hingga 2018.  

Dia mulai menjadi kapten Sea-Watch 3 pada Juni 2019, kapal dengan volume 645 tonase kotor, panjang keseluruhan 50,35 meter, dan lebar 11,5 meter.

Sea-Watch 3 merupakan kapal yang memiliki sejumlah awak dari Jerman tapi berlayar di bawah bendera Belanda. Namun ironinya, partai utama yang menyokong Pemerintah Belanda saat ini, Partai Rakyat untuk Kebebasan Demokrasi atau disingkat VVD, menyatakan sejumlah NGO yang sengaja tanpa izin mengangkut imigran harus dihukum karena memfasilitasi perdagangan manusia. 

Media Belanda De Gelderlander mengutip pernyataan anggota parlemen Belanda sekaligus politisi VVD, Jeroen van Wijngaarden yang mengatakan, “Mereka sebenarnya bukan penyelamat, tetapi layanan feri.” Jika penyelidikan dapat dilakukan, dia ingin para aktivis laut macam Sea-Watch 3 menerima hukuman penjara hingga 4 tahun atau denda paling banyak 83.000 euro (Rp1,31 miliar).   

Namun rekan sesama koalisi, partai ChristenUnie menganggap wacana kriminalisasi ini tidak dapat diterima. “Itu adalah rencana buruk, mengkriminalkan orang-orang yang ‘menjulurkan leher’ untuk menyelamatkan orang,” kata anggota parlemen Belanda, Joël Voordewind. 

Penasihat operasi kampanye Greenpeace, Grant Oakes mendeskripsikan Rackete sebagai sosok yang sangat sadar secara global serta berkomitmen terhadap prinsip-prinsip dan tanggung jawabnya dalam komunitas global. “Sangat rendah hati. Menyenangkan, pekerja keras,” ucapnya.

Dalam karir yang bervariasi, Rackete telah ambil bagian dalam penyelamatan di lepas pantai Yunani pada saat puncak krisis imigran, mempelajari lokasi bersarang elang laut di Atlantik selatan, bekerja dengan Greenpeace membersihkan plastik di pantai barat Skotlandia, hingga memimpin ekspedisi ke Kepulauan Svalbard di Samudra Arktik untuk mengedukasi pengunjung tentang bagaimana perubahan iklim memengaruhi ekologi kawasan.

Dalam operasi pertamanya bersama Sea-Watch, Rackete membantu 45 imigran yang tenggelam karena kapal yang karam di Laut Mediterania.

Christopher Hein selaku profesor hukum dan kebijakan imigrasi di universitas swasta Roma, Luiss Guido Carli, mengatakan, “Anda memiliki sosok simbolis pada Carola. Dia muda, berani, seorang wanita, dan berdedikasi untuk kegiatan kemanusiaan.”  

Sea-Watch 3 di Lampedusa 

“Selamat siang, pak. Saya harus memberi tahu Anda bahwa saya harus memasuki perairan Italia,” ucap Rackete saat memberi tahu penjaga pantai setelah 2 minggu berada di laut.

“Saya tidak bisa menjamin keselamatan orang-orang ini lagi,” tambahnya. “Saya harus menurunkan 42 orang yang saya miliki. Saya akan membalikkan kapal dan memasuki perairan Italia.”

Namun pihak Italia justru membalas, “Sea-Watch, kamu tidak diizinkan memasuki perairan Italia.” Petugas kembali menegaskan, “Sea-Watch, apakah kamu mendengarku? Anda tidak diizinkan memasuki perairan Italia!”

Rackete bergeming dan menjawab, “Waktu kedatangan saya di pelabuhan diperkirakan sekitar 2 jam.” Tidak lama kemudian dia memaksa masuk ke pelabuhan di Pulau Lampedusa dan mengambil risiko menabrak kapal yang berusaha mencegah Sea-Watch 3 berlabuh.

Rackete berbicara kepada The Guardian, “Selama 2 minggu, kami telah memberi tahu pihak berwenang bahwa situasi orang-orang di atas kapal makin dan kian kritis serta kondisi medis para imigran semakin buruk, hari demi hari.”

Namun Rackete menilai dirinya seperti berbicara ke dinding bata. “Insiden di pelabuhan adalah hasil putus asa dari rangkaian peristiwa yang membuat frustasi, dimulai hampir 20 hari sebelumnya.”

Rackete memutuskan berlabuh ke Lampedusa tanpa mengantongi izin pada malam hari 28 Juni 2019 (atau 29 Juni dini hari menurut BBC). Keputusan ini diambil dengan pertimbangan para penumpang yang sudah kelelahan. Para imigran sangat frustasi, kombinasi antara tidak diizinkan keluar dari kapal dan trauma yang muncul dalam pelarian mereka. 

“Di sana ada hak untuk diselamatkan. Ini tentang prinsip HAM.” katanya seperti ditulis dalam Info Migrants. Lawan Salvini adalah seluruh masyarakat sipil atau semua orang yang tidak setuju dengan sikap keras pemerintah populis Italia.

Sea-Watch sebenarnya sudah mencoba bekerja sama dengan pihak berwenang termasuk Italia, Jerman, Malta, Prancis, dan Komisi Eropa. Namun hasilnyan nihil. “Tidak ada satu pun dari aktor-aktor ini yang benar-benar tertarik untuk menemukan solusi dan pada akhirnya kita yang harus mengambil langkah-langkah itu,” kata Rackete, “kami benar-benar ditinggalkan sendirian.” 

Sesampainya di Lampedusa, para imigran diangkat dari kapal, Rackete ditangkap oleh otoritas Italia. Sekitar 100 orang yang mendukungnya memberi tepuk tangan saat kapal Sea-Watch 3 berlabuh, bercampur dengan hinaan serta ancaman pemerkosaan dan pembunuhan dari pihak lain yang juga ada di lokasi.  

Salvini menuduh Rackete mencoba menenggelamkan kapal pengontrol perbatasan beserta aparat yang berusaha menghentikannya. Insiden ini dinilai sebagai tindakan perang dan menuduh perempuan itu sebagai bajak laut, penjahat, dan meremehkan Rackete sebagai ‘orang kaya, kulit putih Jerman’. Media Italia menyebut insiden ini sebagai duel antara capitana (untuk Rackete) melawan capitano (untuk Salvini).

“Mereka mengatakan ingin menyelamatkan hidup, tapi mereka berisiko membunuh orang yang melakukan pekerjaan mereka,” kata Salvini, seperti dimuat The New York Times. Dia juga mencerca pemerintah Belanda karena tidak campur tangan terkait bendera yang berkibar di atas kapal tersebut.

Dalam sebuah kesempatan wawancara video di atas kapal pada 28 Juni 2019, Rackete mendapat pertanyaan, “Matteo Salvini telah menjadikanmu musuh utamanya saat ini, bagaimana tanggapanmu?”

Rackete yang memiliki rambut gimbal panjang, menyipitkan mata di bawah sinar matahari Laut Mediterania. “Sejujurnya, saya belum membaca sejumlah komentar, saya belum punya waktu,” katanya. “Dengan lebih dari 60 orang yang harus diurus, Tuan Salvini harus mengantre.”   

Dukungan dan Masa Depan Rackete

Pengacara Italia untuk Rackete, Leonardo Marino mengatakan bahwa, kliennya telah ditahan atas tuduhan melanggar artikel Kode Navigasi Italia yang berpotensi membawa hukuman hingga 10 tahun kurungan penjara. Rackete juga diselidiki karena diduga memfasilitasi imigrasi ilegal.

Politisi Italia, Ricchardo Magi membela Rackete dengan menyebut keputusan berlabuh dilakukan karena keadaan darurat sehingga tindakannya dibenarkan. “Dia memutuskan untuk mengakhiri penjara di laut.” 

Magi mengatakan kapal Rackete memasuki pelabuhan secara perlahan dan insiden tabrakan dengan kapal pengontrol perbatasan terjadi saat kapal itu berada di antara Sea-Watch 3 dan dermaga. 

Penggalangan dana yang dilakukan di Italia dan Jerman telah berhasil mengumpulkan lebih dari 1 juta euro (Rp15,81 miliar) per 1 Juli 2019 untuk ongkos pembelaan hukum Sea-Watch. Fortune menyebut Rackete sebagai ‘wajah baru yang segar’ dalam krisis imigran Eropa.

Selain itu, Rackete juga mendapat solidaritas lebih dari 30.000 orang yang berdemonstrasi di Jerman. 

Perempun pemberani itu akhirnya dibebaskan dari tahanan rumah pada 2 Juli 2019 setelah pengadilan dengan interpretasi hukum kelautan menyatakan Rackete sebagai kapten kapal memiliki tugas untuk melindungi nyawa penumpangnya. Hakim Alessandra Vella mengatakan Rackete menjalankan tugas itu dan tidak membahayakan nyawa dalam melakukannya.  

Meski terbebas dari tahanan rumah, Rackete masih berpeluang menghadapi prospek persidangan panjang atas tuduhan membantu imigrasi ilegal. Salvini mendesak pihak berwenang segera mengusirnya dari Italia karena berbahaya bagi keamanan nasional.

Salvini berkata, “Perilaku kapten kapal perompak itu adalah kriminal. Dia mencoba menabrak kapal patroli, membahayakan nyawa petugas. Dia akan kembali ke Jerman yang punya pihak berwenang yang tidak akan toleran jika seorang kapten Italia melakukan suatu upaya yang berkaitan dengan nyawa petugas kepolisian Jerman.”

Respon Rackete begini saja. “Salvini mewakili sebuah fenomena, yaitu kemajuan partai-partai sayap kanan, yang sayangnya terjadi di seluruh Eropa, termasuk Jerman dan Inggris, yang berbicara tentang imigrasi tanpa didukung oleh fakta.”

Dengan investigasi yang masih berjalan dan momok persidangan panjang, masih tidak jelas kapan Rackete akan bisa kembali melaut. Namun persekusi yang datang tidak sama sekali membuatnya gentar. “Jika saya menemukan diri saya dalam situasi yang sama, saya tidak akan ragu untuk melakukan semuanya lagi.”(*)

Comments

comments