"Apa Saja yang Dapat Membuatmu Terbakar Itu Diperlukan!"

Bagaimana Yuval Noah Harari Jadi Peliharaan Ideologis Para Elit Liberal

Yuval Noah Harari | Medium

Sumbubotol.com – Mengapa Obama, Zuckerberg, bahkan Gates mau mengadopsi Harari? Mungkin karena sebuah keuntungan politis yang diharapkan bisa mereka ambil dari pandangan sejarawan futuris tersebut, bahwa tidak ada alternatif paling serius untuk menantang paket neoliberal.

I

Dalam buku barunya yang berjudul 21 Adab untuk Abad 21, Yuval Noah Harari berselancar di atas gelombang kesuksesan dua buku terlarisnya yakni Sapiens, yang membuatnya sebagai superstar kelas internasional, dan buku keduanya Homo Deus.

Dua buku pertama berhubungan dengan masa lalu dan masa depan. Sekarang di buku yang ketiga, Harari ingin memfokuskan kaca pembesarnya pada masa kini, meliputi kebangkitan populisme, dukungan terhadap Berxit, dan Donald Trump.

Para pembaca yang sudah terbiasa dengan gagasan Harari tidak akan menemukan sesuatu yang baru pada buku ketiga. Alasannya, sebagain isinya merupakan daur ulang dari karya-karya sebelumnya.

Namun, fokus pada buku ketiga ini memungkinkan kita, lebih dari buku-buku sebelumnya, untuk mengungkap panduan logika politik Harari yang utamanya punya tujuan untuk mengembalikan aturan para elit liberal.

Dalam Sapiens, Harari menggambarkan aturan ini sebagai realisasi dari visi utopis, dari sebuah kerajaan global yang diperintah oleh elit internasional yang menjamin perdamaian di dalam batasannya, dalam artian lain sebagai perdamaian dunia. Lewat pernyataan ini, maka tidak perlu heran jika para elit liberal segera menjabat hangat tangan Harari.

Majalah bisnis Fast Company menjuluki Harari sebagai sejarawan favorit Silicon Valley. Mark Zuckerberg turut berkontribusi dalam meningkatkan ketenaran Harari ketika sang bos Facebook tersebut memasukkan Sapiens dalam Facebook Book Club. Bahkan, mantan presiden Amerika Serikat (AS) ke-44, Barack Obama, serta bos Microsoft, Bill Gates, turut memberikan testimoni yang menghiasi sampul Sapiens.

Gates juga turut mempromosikan buku kedua Harari. Homo Deus muncul dalam daftar bacaan musim panas 2017 yang direkomendasikannya, dan pada tahun 2018 menulis sambutan hangat tentang buku ketiga Harari di The New York Times.

Pertanyaannya kemudian, mengapa Obama, Zuckerberg, Gates, hingga Silicon Valley secara keseluruhan mau mengadopsi Harari sebagai sejarawan peliharaan mereka?

Satu penjelasan yang mungkin, ada sebuah keuntungan politik yang berharap mereka dapatkan dengan memviralkan pandangan Harari yang menyebut bahwa tidak ada alternatif serius untuk paket neoliberal dan metanarasi yang telah ditenun sejak Sapiens, yang akan disebut di sini sebagai Mitologi Sapiens.

II

Menurut Harari, demokrasi liberal adalah jenis rezim yang optimal untuk menghadapi tantangan dunia modern. Dalam buku ketiga, pembahasannya bertumpu pada upaya untuk mengatasi krisis demokrasi liberal. Harari mencoba mencari asal-usul krisis demokrasi liberal saat ini di bidang ideologis.

Populisme dapat menang, menurut Harari karena narasi liberal kehilangan kredibilitasnya, seperti misalnya setelah krisis keuangan 2008, gagal memberi jawaban pasti tentang bahaya yang ditimbulkan oleh ancaman nuklir, kian mengkhawatirkannya pemanasan global, hingga peluang ancaman yang dilahirkan inovasi teknologi.

Sebelum melangkah lebih jauh, definisi populisme harus didudukkan terlebih dahulu.

Menurut penulis Populism: A Very Short Introduction, Cas Mudde, dalam ilmu politik populisme berarti gagasan bahwa masyarakat dipisahkan menjadi dua kelompok yang berselisih satu sama lain. Misalnya antara orang bersih dan korup.

Seorang sosok populis mengklaim mewakili kehendak rakyat. Dia menentang pihak yang sering kali termanifestasi dalam wujud sistem saat ini untuk kemudian melawannya dan memberi obat penawar.

Menurut Benjamin Moffitt, penulis The Global Rise of Populism, “Ini umumnya melekat pada haluan kanan dalam konteks Eropa. . . tapi tidak semua kasus seperti itu.”

Kembali ke pendapat Harari, agar elit liberal mendapatkan kembali kekuasaannya, mereka harus menciptakan cerita yang telah diperbarui untuk masyarakat dunia.

Karena para elit tersebut tidak dapat melakukannya, maka Harari mengasumsikan dirinyalah yang akan mengambil peran sebagai ideolog mereka dan dalam buku ketiga mengusulkan versi terbaru kisah liberal berdasarkan Mitologi Sapiens.

Bagi Harari, populisme menimbulkan bahaya bagi masa depan dunia karena mendorong fantasi nostalgia, memicu separatisme nasionalisme, hingga berdampak buruk pada kerja sama internasional.

Meski demikian, Harari percaya bahwa pada akhirnya umat manusia tidak akan meninggalkan kisah liberal karena tidak ada alternatif lainnya. Orang-orang mungkin akan mengamuk pada si liberal. Akan tetapi karena tidak punya solusi cemerlang, pada akhirnya mereka akan kembali.

Maka untuk melawan populisme, kemarahan harus diredakan. Dan untuk melakukannya dibutuhkan sebuah kisah baru yang belum pernah ditawarkan. Sampai di titik ini tanggung jawab berpindah tangan pada elit liberal.

Sama seperti elit Uni Soviet pada 1980-an, kaum liberal tidak mengerti bagaimana sejarah menyimpang dari jalur yang sebelumnya telah ditentukan. “Disorientasi menyebabkan mereka berpikir dalam istilah apokaliptik, seolah-olah kegagalan sejarah untuk mencapai akhir yang bahagia hanya dapat dibayangkan akan menuju pada Armagedon.”

Bagi Harari kepanikan ini menyebabkan kelumpuhan politik, yang memungkinkan populisme justru menyebar lebih mudah sehingga memperburuk rasa panik dan lantas masuk dalam arus siklus yang tidak berkesudahan.

III

Kisah liberal baru yang ditenun Harari dimulai dari titik kaburnya realitas sosial dan politik alternatif. Ia membahas faktor-faktor di balik krisis demokrasi liberal dan menyimpulkan setiap bahasan dengan ketidakpastian dan kebingungan, mengarahkannya pada diskusi tentang faktor lain yang lebih abstrak dan spiritual.

Misalnya saja dalam bab tentang Perang, Harari mengadopsi pendekatan sejarawan Barbara Tuchman yang menulis March of Folly dan menyebutkan bahwa kebodohan manusia adalah salah satu kekuatan paling kuat dalam sejarah. Baik pada tingkatan pribadi maupun kolektif, manusia cenderung terlibat dalam aksi yang justru merusak diri sendiri.

Usai mereduksi analisis politik menjadi diagnosa psikologi-pop, Harari menegaskan layaknya sebuah ramalan, bahwa Perang Dunia III tidak bisa dihindari dan mungkin juga sebaliknya. Ramalan yang agak tidak berguna ini membawanya ke kesimpulan yang lebih bersifat teologis daripada politis: bahwa cara untuk mencegah perang adalah melalui takaran dosis kerendahan hati.

Setelah bab yang membahas tentang Perang, Harari mendiskusikan tentang peningkatan skala abstraksi, konsep kerendahan hati, Tuhan, sekulerisme, kebenaran, keadilan, dan banyak hal lainnya lagi yang masing-masing menambah kabut dalam pandangannya tentang realitas sosial dan kekaburan pengamatannya dalam dimensi politik.

Akhirnya dalam bab penutup, Meditasi, Harari menjelaskan bagaimana menghadapi kesulitan dalam melihat sesuatu yang disebutnya sebagai ‘kejelasan yang lebih besar’. Ia menyebut bahwa kacamata yang dipakainya untuk memeriksa dunia adalah ‘fokus dan kejelasan’ yang didapatkan melalui meditasi Vipassana (berasal dari istilah yang berarti introspeksi, kata Harari).

Harari yakin semua orang harus mengamati dirinya sendiri, terutama untuk mengetahui kesadaran diri, dengan berlatih Vipassana atau teknik sejenisnya.

Alih-alih menawarkan sebuah diskusi politik tentang krisis demokrasi liberal, Harari malah mengusulkan introspeksi. Dengan melakukan hal tersebut, ia justru hanya mengaburkan penyebab krisis saat ini dan menghalangi upaya untuk menemukan solusinya sehingga krisis justru terus berlanjut.

IV

Kegagalan dalam menganalisis membuat Harari sampai pada saran politik yang secara terang-terangan menyebut dua masalah mendesak yang menentukan agenda internasional: yakni krisis imigran dan ancaman teroris.

Pada bab Migrasi, Harari menyatakan bahwa arus migrasi ke Uni Eropa menyulut reaksi beragam dari warganya sehingga menyuburkan perselisihan sengit yang tidak mudah diselesaikan lewat debat publik.

Untuk menjernihkan masalah, Harari menggunakan logika pasar dan menyarankan agar memandang migrasi sebagai suatu kesepakatan antara negara tuan rumah dan imigran.

Oleh karena itu, Harari justru menyajikan perselisihan antara pendukung migrasi dan pihak yang berseberangan, seolah-olah itu merupakan argumen semi-legal mengenai apakah para pihak menegakkan syarat-syarat kesepakatan yang telah saling dibayangkan satu sama lain.

Akan tetapi pada akhir diskusi panjang yang mengaburkan garis perselisihan, Harari menyatakan bahwa tidak mungkin untuk mengatakan siapa yang benar.

Kemudian ia meneliti sikap imigran berlandaskan argumen yang menggaungkan diskursus multikultural, menggantikan istilah rasisme dan kulturisme.

Akan tetapi hal ini juga tidak benar-benar membantunya dalam menjelaskan polemik tentang migrasi. Pada akhir bab ini ia menyatakan, “Ini adalah diskusi antara dua oposisi politik yang sah, yang harus diputuskan melalui prosedur standar demokrasi.

Dengan kata lain, Harari merekomendasikan untuk tetap berpegang pada jalan buntu politik yang sebenarnya memicu perdebatan sejak awal, dan mendaku diri berupaya memperjelas persoalannya secara efektif, yang justru malah berfungsi sebagai sampul untuk mengaburkannya.

Kebingungan Harari mencapai puncaknya pada bab Terorisme. Dia meminimalkan bahaya terorisme, menyebutnya sebagai teater, strategi dari pihak-pihak sangat lemah yang berusaha merusak rasa aman masyarakat untuk menghasilkan perubahan politik.

Atas landasan ini Harari kemudian menegur pemerintah dan media, dengan mengatakan bahwa tanggapan mereka justru memperbesar ketakutan yang ingin ditanamkan oleh peneror, sehingga justru dapat membantu mereka mencapai tujuan.

Saran Harari, negara harus menanggapi teater teror dengan teater keamanannya sendiri dan melawan teror dengan tenang dan efisien. Selanjutnya, media harus menghindari histeria dan menghentikan pemberitaan yang berlebihan karena memberikan publisitas bagi terorisme dan justru meningkatkan ketakutan.

Akan tetapi permohonan mendesak Harari anehnya justru sudah ketinggalan zaman. Dia merujuk, terutama, pada serangan 11 September 2001, namun tidak membahas pola operasi terorisme selanjutnya, organisasi teroris yang dijalankan oleh negara atau yang memiliki karakter semi-negara, sehingga melemahkan premis dan kesimpulannya.

Selain itu, analisis Harari tentang hubungan timbal balik antara terorisme dan media terbatas pada era sebelum munculnya media sosial. Sehingga, sangat memungkinkan pada hari ini muncul ke permukaan publik secara langsung tanpa perlu dimediasi oleh media mainstream.

Daripada memberikan solusi bagaimana cara mengatasi terorisme hari ini, Harari justru memberikan teguran moralistik. “Adalah tanggung jawab setiap warga negara untuk membebaskan imajinasinya dari para teroris,” terangnya. Itu adalah teror batin kita sendiri, kata Harari, disebabkan oleh sikap tidak layak dari pemerintah dan media.

Jadi kesimpulannya, “Keberhasilan atau kegagalan terorisme tergantung pada kita.”

Seakan-akan cara paling mutakhir untuk menjinakkan teror adalah dengan memprivatisasi persoalannya ke dalam masing-masing individu. Sebagai contoh, ilmuwan politik Dafna Canetti berpendapat bahwa intervensi oleh mekanisme pemerintah dan masyarakat dapat mengurangi efek psikologis teror pada individu dan mengurangi rasa takut yang ditimbulkannya.

Renungannya tentang Perang, Migrasi, dan Teror menyibakkan bagaimana logika metodelogi Harari bekerja. Ia mengeluarkan persoalan ini dari konteks sosialnya, menggambarkannya sebagai masalah yang tidak terselesaikan secara politis, dan menjadikannya sebagai masalah pribadi.

Pembentukan kondisi membingungkan ini, yang tampaknya diperjuangkan oleh Harari, dilakukan dengan memprivatisasi ruang publik, merupakan prasyarat untuk sebuah aturan ala para elit liberal.

V

Kontribusi Harari dalam pemulihan kekuasaan elit liberal dimanifestasikan dalam bab Kesetaraan. Ia memperingatkan bahwa abad ini berpeluang menghadirkan masyarakat paling non-egaliter dalam sejarah akibat terobosan teknologi yang bakal memungkinkan orang kaya untuk menerjemahkan keuntungan ekonomi mereka menjadi keuntungan biologi, dan perbedaan kelas ini akan diubah menjadi perbedaan kasta biologis.

Perkembangan ini, kata Harari, akan sangat kontras dengan apa yang terjadi pada abad ke-20 yang berkutat pada ketidaksetaraan kelas, ras, dan gender. Lihat saja pada dunia tahun 2000, “Yang jauh lebih setara daripada tahun 1900,” sebuah pergeseran yang bahkan sudah terjadi pada tahun-tahun pertama abad ke-21.

Namun, diskusi ini mengaburkan cepatnya laju ketimpangan sosial-ekonomi yang terjadi di negara-negara inti Barat selama dekade terakhir abad ke-20, didorong oleh apa yang disebut ekonom Thomas Piketty sebagai revolusi konservatif yang dipelopori oleh Milton Friedman, Margaret Thatcher, dan Ronald Reagan. Tujuannya adalah menarik ‘negara kesejahteraan’ sehingga meningkatkan ketimpangan dengan memprivatisasi infrastruktur dan layanan sosial, melanggar perpajakan progresif dan meliberalisasinya, serta menderegulasi pasar modal dan komoditas.

Maka kemudian, pendapat Harari yang menyatakan bahwa revolusi teknologi membatalkan ‘negara kesejahteraan’ dalam waktu dekat adalah keliru dan juga menyesatkan. Dalam praktiknya, proses itu telah dimulai empat dekade lalu sebagai bagian dari revolusi neoliberal. Dengan caranya ini, Harari menyesuaikan gambaran masa lalu dengan kebutuhan politiknya pada saat ini.

Dalam permintaan agar tidak menata ulang aturan elit liberal pada abad ke-21, Harari mengaburkan rute yang para elit liberal ambil untuk membuat diri mereka berada di atas awan dengan meningkatkan ketimpangan sosial-ekonomi pada kuartal terakhir abad ke-20.

VI

Harari juga berupaya memulihkan citra para elit liberal dalam bab berjudul Komunitas yang ada kaitannya dengan Facebook dan Mark Zuckerberg. Demi meredamkan kemarahan publik karena monopoli Facebook yang semakin parah, Harari berupaya mengalihkan kritik dari perilaku ekonomi korporasi yang melecehkan, menuju pada pengaruh bahayanya bagi kehidupan pengguna sebagai individu.

Tenggelam dalam layar, kata Harari, menyebabkan manusia tumbuh jauh dari tubuh mereka dan kehilangan alat untuk terhubung dengan pengalaman mereka sendiri. Oleh karena itu, ia meminta agar Facebook mengembangkan model bisnis yang akan mengurangi kontak penggunanya dengan web sehingga memungkinkan mereka memberi perhatian lebih besar pada lingkungan fisik dan sensasi tubuhnya sendiri.

Tidak hanya itu, Harari juga mengalihkan diskusi dari tingkah laku Facebook sebagai perusahaan menuju diskusi tentang batas-batas jejaring sosial sebagai media, yang tentu saja mengusir pembahasan mengenai konten politik dalam kritikannya.

Kritik terhadap Facebook diterjemahkan ke dalam tuntutan publik untuk menjadikan aktivitas kasar sebagai peraturan pemerintah yang ketat. Meski Harari melontarkan kritik, ia tampaknya hanya melakukannya untuk membatalkan implikasi politik yang bisa didapatkan Facebook dan menghalangi sejauh mungkin tindakan pemerintah untuk membatasi operasi perusahaan yang bermarkas di Menlo Park tersebut.

Karena itu, Harari menyarankan agar Facebook itu sendiri, atas niat baiknya semata, harus memperbaiki perilakunya dan memastikan privasi penggunanya, serta berhenti mengelak dari pembayaran pajak.

Seiring dengan penolakannya terhadap intervensi politik, Harari menyarankan untuk mengatasi power yang dimiliki Facebook melalui metode pasar. Ia mengusulkan bahwa insentif akan ditawarkan kepada perusahaan, lembaga, dan pemerintah untuk bersaing dengan Facebook, atau bahkan untuk menjalankan proyek sosialnya sendiri.

Bagian soal Facebook ini awalnya dipublikasikan di Financial Times pada Maret 2017. Agak masuk akal untuk berpikir bahwa Zuckerberg membacanya pada saat itu. Namun meski pun belum mebacanya, Zuckerberg akan berperilaku seolah-olah dirinya telah menginternalisasi kritik Harari tentang kebutuhan Facebook untuk mengakui kesalahannya dan menyetujui kompromi untuk melindungi kepentingan vitalnya.

Pada April 2018 di tengah sejumlah skandal yang merundung Facebook, Zuckerberg ‘disidang’ oleh para senator Amerika Serikat (AS) dan mengakui, “Sekarang sudah jelas bahwa kita tidak melakukan banyak hal untuk mencegah agar ‘alat-alat’ ini tidak digunakan untuk hal yang merugikan.” Ia menyatakan penyeselan dan merasa berdosa, memegang tanggung jawab secara pribadi atas kesalahan yang telah terjadi dan menjelaskan bahwa hal ini lahir dari persepsi yang terlalu sempit dalam memandang peran sosial Facebook.

Namun batas penyesalan Zuckerberg muncul pada apa yang ia katan sebelum momen tatap muka dengan para senator AS tersebut. Ia mendukung regulasi publikasi iklan politik di internet asalkan ini diberlakukan pula pada semua platform, bukan hanya pada Facebook. Manuver pernyataan Zuckerberg yang baru saja ditunjukkannya ini dengan demikian punya tujuan bisnis yang amat jelas.

Dia berjanji kepada para senator bahwa Facebook akan menerima kritik tersebut dan mengubah cara-cara perusahaannya beroperasi untuk menghindari lahirnya kemungkinan peraturan baru yang diberlakukan. Atraksi kerendahan hati Zuckerberg dengan demikian sepenuhnya konsisten dengan strategi kompromi yang disarankan oleh Harari.

Bersamaan dengan dukungannya untuk elit liberal, kisah liberal baru ala Harari dengan terang-terangan mengabaikan sejumlah gerakan protes dan partai-partai sayap kiri yang telah menantang hegemoni neoliberal dalam beberapa dekade terakhir.

Elit liberal adalah bagian dari blok politik yang oleh filsuf Nancy Fraser sebut sebagai kaum neoliberalisme progresif. Diejawantahkan oleh Presiden Clinton dan Obama, kebijakan yang ditelurkan tersebut merusak kesejahteraan masyarakat yang berada di tingkat sosial-ekonomi terendah AS. Sebagai ganjarannya, mereka-mereka ini lantas memalingkan muka untuk mendukung Trump.

Fraser yang berbeda dengan Harari, melihat elit liberal sebagai masalah bukan solusi, menyatakan bahwa alternatif yang tepat untuk Trump adalah peremajaan kaum kiri dalam bentuk sosialisme demokratis ala Bernie Sanders.

Untuk memenangkan hati dari para kelas pekerja, Fraser menekankan, kaum kiri yang diremajakan akan perlu mendobrak dikotomi palsu antara emansipasi dan perlindungan sosial untuk memutuskan jerat neoliberalisme progresif dan mengungkap kesenjangan konseptual dan politis antara dua mazhab ini.

Logika politik yang sama yang mendorong Fraser menyerukan agar kaum kiri memperbarui diri dan mempertegas perbedaan mereka dengan neoliberalisme progresif, malah dikaburkan oleh Harari.

Kebingungan dalam memahami ketidaksetaraan sosial-ekonomi dan menghapuskan sosialisme menciptakan ilusi gagasan bahwa perjuangan politik itu hanya dilakukan antara populisme dan liberalisme. Dan oleh karena itu, penentangan terhadap populisme (mungkin ala Trump atau Bolsonaro) harus berhubungan dengan liberalisme, bahkan jika mereka adalah para korban dari kebijakan sosial-ekonomi yang timpang tersebut.

Neoliberalisme progresif adalah sisi bersebrangan dari populisme Trump. Dengan kata lain, peremajaan kaum kiri ditendang dari kisah liberal baru yang ditenun Harari dalam 21 Adab untuk Abad 21 demi melayani liberalisme dan mungkin juga populisme.

VII

Dalam menghapus politik dari sejarah dan mengacaukan penjelasan kausal atas perkembangannya, Harari mengacu pada Mitologi Sapiens, metanarasi yang dikembangkannya sejak buku pertama dan yang melambungkan namanya.

Mitologi Sapiens didasarkan pada dua anggapan yang kotradiktif. Salah satunya adalah bawa otak dan pikiran yang ada di dalam diri kita adalah milik para pemburu-pengumpul dan karenanya kita tidak cocok untuk dunia ini, tetapi untuk dunia para pemburu-pengumpul. Yang lainnya, sejak revolusi bahasa, tidak ada yang namanya cara hidup yang alami. Hanya ada pilihan budaya yang berbeda dari berbagai kemungkinan.

Kontradiksi ini secara efektif mencerminkan logika pasar yang mendasari Mitologi Sapiens. Menurut Harari, “Sebagian besar ketidakadilan di dunia dihasilkan dari bias struktural berskala besar dan bukan dari prasangka individu, dan otak pemburu-pengumpul kami tidak berevolusi untuk mendeteksi bias struktural.”

Pernyataan Harari yang menyebut individu tidak mampu menemukan bias dalam struktur sistemik menunjukkan bahwa Mitologi Sapiens menjadi satu lagi metafora konsepsi yang memandang pasar sebagai kondisi alami.

Dalam pertanda inilah kita harus membaca peringatan Harari dalam 21 Adab untuk Abad 21. Jika umat manusia tidak pernah akan tahu apa yang harus dilakukannya dengan kekuatan yang telah diberikan padanya oleh bioteknologi dan teknologi informasi, maka “Kekuatan pasar tidak akan menunggu seribu tahun untuk menunggu Anda datang dengan sebuah jawabannya. Tangan pasar yang tidak kasat mata akan memaksakan pada Anda jawabannya secara membabi buta.”

Sesuai dengan asumsi Harari bahwa otak pemburu-pengumpul kita tidak berevolusi untuk mendeteksi bias struktural, tampaknya manusia tidak dapat menebas tangan tidak terlihat kekuatan pasar tersebut. Mungkin satu-satunya hal yang bisa dilakukan hanyalah mengenali dan bertindak dalam kerangka mereka.

Mitologi Sapiens dengan demikian adalah versi lain dari konflik antara aksi politik dan intropeksi, yang merupakan jantung dari analisis Harari. Dalam semangat neoliberalisme progresif, ia menegaskan dengan penjeleasan antropologis batas-batas pengaruh politik demokrasi di pasar dan mengurangi minat individu terhadap pilihan budayanya dalam desain si kekuatan pasar yang tidak terlihat itu.

Mitologi Sapiens menggantikan mekanisme penafsiran konvensional dalam penelitian sejarah, termasuk yang berfokus pada proses dan bukan pada peristiwa, serta pada yang memulai dari ketidakteraturan alih-alih pada kausalitas.

Jadi dari Adab 21 untuk Abad 21, daripada memberi penjelasan untuk krisis demokrasi liberal, Harari hanya menawarkan lebih banyak kasus dan contoh, memberi semakin banyak argumen untuk mendukung dan menentang dari sudut satu maupun sudut lainnya, yang keseluruhannya hanya merupakan ‘sejarah kain kafan lebih lanjut’ dalam kontradiksi yang disuguhkan Mitologi Sapiens.

Alasan mengapa buku-buku Harari menjadi buku terlaris pasti bisa diterima berdasarkan penjelasan historis berikut ini. Sejak tahun 1990-an, proses perampasan yang dilakukan oleh neoliberalisme telah menghasilkan peningkatan resistensi terhadap globalisasi perusahaan dan ketidaksetaraan sosial. Hal ini disertai dengan minat pada kebijakan neoliberalisme dan bagaimana cara mekanisme penindasannya bekerja.

Gelombang buku seperti karya Naomi Klein, No Logo dan The Shock Doctrine, serta film-film dokumenter karya Michael Moore seperti Sicko telah membahas fenomena ini.

Krisis ekonomi 2008 dan gerakan protes 2011 mengubah kegagalan neoliberalisme dan ketidakadilannya menjadi pemicu perjuangan politik untuk mereformasinya, yang tentu bisa mengancam kekuasaan para elit liberal.

Kondisi ini sepertinya menjadi latar belakang kesuksesan buku-buku Harari, yang harus dipahami, mulai diterbitkan pada tahun 2011.

Mitologi Sapiens menciptakan ilusi penjelasan untuk krisis ekonomi dan politik. Lebih lanjut, ia memberikan rasionalisasi antropologis atas impotensi kita di hadapan kekuatan pasar. Sementara di sisi yang lain ia menggambarkan elit liberal sebagai pihak yang dapat memperbaiki situasi ini.

Pesan Harari menggema dengan sukses untuk mencuri perhatian pembaca dan menggusur debat publik atas interpretasi-interpretasi yang dapat membahayakan neoliberalisme.

Sementara kritik sosial Klein mengekspos mekanisme penindasan dan ketidaksetaraan serta membingkainya sebagai bagian dari kebijakan neoliberal, Mitologi Sapiens berfokus pada perilaku dan individu, serta menjadikan otak pemburu-pengumpul kita sebagai penghambat analisis sistemik dan peluang untuk memicu perubahan struktural.

Dalam 21 Adab untuk Abad 21, ada garis demarkasi yang tegas antara Harari dengan Klein dan Moore. Jika Klein dan Moore berpendapat kegagalan dihasilkan oleh ketidaksetaraan pada era saat ini, maka Harari mengalihkan fokus pada bahaya yang dapat terjadi pada masa depan.

Dengan kata lain, Mitologi Sapiens adalah satu lagi mekanisme budaya yang punya tujuan untuk mengkonsolidasikan hegemoni neoliberal dan menormalkan aturan elit liberal.

Dalam hal ini, aksinya menyeruapi program di TV atau pada medium-medium lainnya yang ingin menanamkan standar neoliberal pada pemirsa lewat hiburan atau berbagai manifestasi Zaman Baru, dilakukan dengan menghadirkan aturan prilaku yang jelas sangat berbeda, namun secara efektif mereplikasi argumen-argumen pasar.

Mendeskripsikan para elit liberal dalam Sapiens sebagai upaya untuk mewujudkan perdamaian dunia menjadikan Harari sebagai sejarawan pilihan dan 21 Adab untuk Abad 21 sebagai ideolog acuan mereka.

Homo Deus adalah gambaran cita-cita liberal yang bakal diterima secara universal. Tetapi dalam praktiknya para elit liberal membutuhkan Mitologi Sapiens agar narasi realitas yang mereka tawarkan diterima oleh semua pihak, di samping menggunakan jalur ekonomi, sosial, politik, dan praktik budaya lainnya .

Akhir kata, melanggar logika neoliberal dan mengobarkan perlawanan atas ketidaksetaraan ekonomi, ancaman sosial, dan penderitaan manusia yang ditimbulkannya, harusnya juga wajib menerobos batas-batas mitologi dan ilusi ciptaan Harari untuk membongkar kelemahan historiografi yang mendasarinya.(*)

Artikel ini merupakan terjemahan bebas dari tulisan Danny Gutwein berjudul How Yuval Noah Harari Became the Pet Ideologist of the Liberal Elites yang diterbitkan oleh Haaretz.

Comments

comments